Sabtu, 08 Desember 2012
Menyerah
berulang kali, dulu...
aku mengucap kata ini
mengharapkan penolakan kontra dari jemarimu
yang akhirnya menuntunku untuk kembali dan tak akan terlepas lagi
dan kali ini aku bersendagurau tentang jejarian itu
bahkan untuk memintamu menarikku ke dalam rengkuhan
adalah kemustahilan
aku meronta memohon untuk pergi
dan jangan biarkan aku kembali
bahkan untuk sepersekian detik pun
aku tak ingin menampakkan lagi perasaan ini
aku menyerah
terimakasih atas segala yang kau berikan
setidaknya aku belajar banyak darimu
dan aku akan selalu menyimpan segalanya dalam kotak memoriku
tidak untuk kubuka lagi, tapi
aku ingin menyimpanmu
tapi juga membuangmu
membuangmu jauh-jauh dari hidupku
dan jangan pernah kembali jika tujuanmu hanya untuk mengulang luka
terimakasih...
Maudy Ayunda - Tahu Diri
entah kenapa setiap liriknya bikin airmata nggak mau berbetah dalam rumah tinggalnya.. alhasil, tetes demi tetesnta menari-nari di pipi. mengajak kedua tangan tak segan menyekanya berulang-ulang.
kemudian, sesak merambat.
ini berlebihan tapi, kadang yang berlebihanlah kenyataan..
Maudy Ayunda - Tahu Diri
Hai, selamat bertemu lagi..Aku sudah lama menghindarimuSialkulah kau di siniSungguh tak mudah bagikuRasanya tak ingin bernafas lagiTegak bediri di depanmu kiniSakitnya menusuk jantung iniMelawan cinta yang ada di hati
Dan..upayaku tahu diri..Tak slamanya berhasilPabila kau muncul terus beginiTanpa pernah kita bersamaPergilah,menghilang sajalah lagi
Bye, selamat berpisah lagiMeski masih ingin memandangimuLebih baik kau tiada di siniSungguh tak mudah bagikuMenghentikan sgala khayalan gilaJika kau ada dan ku cuma bisaMeradang menjadi yang di sisimuMembenci nasibku yang tak berubah
Berkali-kali kau berkataKau cinta tapi tak bisaBerkali-kali ku tlah berjanjiMenyerah....
Dan..upayaku tahu diriTak slamanya berhasil
Pergilah,menghilang sajalahPergilah,menghilang sajalah lagi...
Unsur Intrinsik Novel "The Real Us"
beberapa hari yang lalu ayas dapet tugas bikin makalah tentang unsur2 intrinsik novel.. dan jadi keinget novel yg duluuu banget [ernah dibaca.. judulnya "The Real Us". akhirnya aakupake novel itu lagi.. dan daripada nnggak guna di leptop mending dipost ajaaa... manggaaa...
____________________________________
Judul Novel : The Real Us
Pengarang : Gisantia Bestari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun : 2007
Sinopsis :
The Real Us
Kyana, Byan dan
Misty adalah tiga gadis kembar keluarga Kashogi. Mereka tumbuh dengan pola
pikir dan cara pandang yang berbeda meskipun jarak waktu lahir mereka hanya lima menit. Kyana, yang
paling tua, adalah pribadi yang cantik, ekspresif, dan selalu menomorsatukan
penampilan, meskipun kadang ia keterlaluan dalam memanfaatkan keopulerannya
untuk berganti-ganti pacar. Pacar Kyana bernama Reaza. Seperti yang
sebelum-sebelumnya. Kyana tidak serius mencintai Reaza. Dia hanya mempermainkan
Reaza sifatnya itu sangat tidak disukai oleh adiknya, Byan. Gadis pintar dan lembut
itu sering menyiman iri pada Kyana yang sering dipuji paling cantik di antara
mereka brtiga. Byan adalah gadis yang cerdas dan suka menulis. Sampai-sampai,
ia mempunyai sebuah buku harian sendiri, tempat ia menuangkan perasaannya yang
tertutup. Byan pun kerap menjadi penengah pertengkaran Kyana dengan adik
bungsunya, Misty. Berbeda jauh dengan dua kakak kembarnya, Misty justru menjadi
gadis tomboy yang sangat suka bermain basket. Ia juga dicap galak oleh
teman-teman kelasnya. Disbanding Kyana dan Byan yang selalu rapi, Misty adalah
Misty yang berantakan. Walaupun sebenarnya ia mempunyai jiwa sosial yang
tinggi.
KBM (Kyana, Byan
dan Misty) bersekolah di SMA Kakaktua, Jakarta
dan tinggal di rumah kos Bu Dive, yaitu Kos Komet. Kyana sekamar dengan Byan,
sedangkan Misy lebih memilih sekamar dengan Nerra, anak bungsu Bu Dive. Anak
pertama Bu Dive bernama Kamga, yaitu pemuda yang dihilai Kyana. Di Kos Komet
pun, Kyana sering mencari-cari perhatian Kamga dan ternyata Nerra tidak
menyukainya.
Suatu ketika, SMA
Kakaktua mengadakan penggeledahan (razia) dan betapa terkejutnya Kyana saat di
dalam tasnya ditemukan sebungkus rokok. Akibatnya, ia dipanggil kepala sekolah.
kyana berhasil meyakinkan kepala sekolah bahwa memang bukan dialah pemilik
rokok itu. namun, sepertinya Misty menaruh curiga pada Kyana. Senin paginya,
tiba-tiba Kyana dimarahi Fista (teman sekelas KBM) karena SMS yang malamnya
dikirim dari handphone Kyana ke handphone Fista. Pesan yang isinya memaki-maki
Fista itu membuat Fista membenci Kyana, meskipun berulang-ulang kali Kyana
menjelaskan bahwa bukan dirinyalah yang mengirimnya. Ternyata kesialan Kyana
belum usai, beberapa minggu setelahnya Byan berpacaran dengan Digar, teman
sekolah mereka, ia justru mendapat musibah lagi. Tiba-tiba saja saat ulangan
kimia ada yang melemparinya dengan secarik kertas sontekan dan ketahuan oleh
sang guru. Kontan, kertas ulangannya disobek-sobek. Padahal, lagi-lagi bukan Kyana yang
melakukannya. Hal itu membuat Misty semakin membenci kakaknya itu. Bahkan ia
pernah menampar Kyana yang saat itu menuduhnya baru saja keluar dari kamar
Kamga, padahal Misty baru saja dimarahi Bu Dive karena terlambat membayar uang
kos. Hilang sudah kesabaran Misty menghadapi kakaknya itu.
Di saat seperti
itu, Byan pun juga mendapat masalah. Digar, pacarnya, marah. Karena Byan malah
ketiduran di hari kencannya menonton film bersama. Untung ada Kyana yang
diam-diammengembalikan keadaan mereka berdua. Ia mengaku salah karena tidak
membangunkan Byan yang padahal memang benar-benar ketiduran. Sikap Kyana itu
mengubah pandangan negatef Misty kepada Kyana. Dan akhirnya Misty meminta maaf
atas kesalahannya menampar Kyana dulu. Misty sadar mengapa Kyana tidak membalas
tamparannya saat itu. Hal itu semata-mata karena bagi Kyana Misty adalah
segalanya. Ia tidak mungkin melukai adiknya sendiri. Kyana pun mulai berubah
sejak tahu dari Nerra bahwa ternyata Kamga sudah punya pacar.
Suatu ketika,
sepulang sekolah, Kyana bermaksud mengikuti ulangan susulan kimia, sehingga ia
tidak ikut pulang bersama Byan dan Misty. Namun naas, ketika Kyana pulang lagi
karena tidak mendapat izin untuk ulangan, lagi-lagi ia mendapat musibah. Sebuah
mobil mendadak menabrak Kyana yang sedang kehujanan di jalan.
Keadaan semakin
parah ketika Misty tahu segalanya. Tentang siapa yang menjadi dalang atas semua
musibah yang diderita Kyana. Siapa yang menaruh rokok ke dalam tas Kyana, siapa
yang mengirim SMS ke handphone Fista dengan kata-kata makian. Dan siapa yang
membuat sontekan yang akhirnya mengakibatkan kertas ulangan Kyana disobek-sobek.
Misty mengetahui semua itu melalui sebuah buku harian di dalam lemari pakaian
Byan. Buku harian Byan. Ya, ternyata Byan lah yang melakukan itu semua.
Seketika Misty marah besar, ia dirundung kecewa yang teramat sangat kepada
Byan, ia sungguh tidak percaya Byan yang notabene tidak pernah neko-neko bsa
setga itu pada Kyana. Padahal Kyana lah yang yang membuat Byan berbaikan dengan
pacarnya, Kyana rela melakukan pengorbanan untuk seorang Byan yang justru
membalasnya dengan hal sekejam ini. Sambil menangis, Misty memaki-maki Byan
habis-habisan. Byan mengaku bahwa selama ini ia iri dengan Kyana yang selalu
dianggap lebih. Tapi, kini ia sadar, kelakuannya salah besar. Ia menyesali
semuanya, dan bermaksud untuk meminta maaf pada Kyana. Bahkan ia sanggup
meluruskan semua masalah di sekolah yang menimpa Kyana. Tiba-tiba Nerra
memasuki kamar Byan dan mengabari Misty dan Byan bahwa Kyana baru saja
kecelakaan sepulang sekolah tadi. Seketika Byan dan Misty menangis. Lengkap
sudah penyesalan Byan. Andai saja ia tidak memfitnah Kyana menyontek, hal itu
tidak akan terjadi. Kyana tidak perlu pulang sendirian dan mengalami ini semua.
Perasaan mereka tidak enak. Ikatan saudara kembar mereka mengatakan Kyana tidak
akan baik-baik saja. Tapi, Byan dan Misty tetap bersyukur sempat bertemu dengan
kakak mereka. Byan juga sempat mengakui segala kesalahannya. Dengan rela, Kyana
pun memaafkan Byan sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya.
UNSUR INSTRINSIK NOVEL
“The Real Us”
- TEMA
Tema yang diangkat di dalam novel ini adalah kehidupan sosial, yaitu
persaudaraan dan persahabatan. Hal itu dapat dibuktikan dari penceritaan dari
penulis mengenai kehidupan remaja SMA dalam segala aspek, meliputi
persahabatan, percintaan, sosial dan lain-lain.
- PENOKOHAN
Penokohan di dalam novel ini terbagi menjadi tokoh utama dan tokoh
tambahan. Berikut penjelasannya:
Tokoh Utama
- Tokoh Utama Protagonis
Rizkyana Kashogi
(Kyana)
·
Bentuk lahir tokoh :
cantik, bertubuh tinggi, berambut panjang
·
Jalan pikiran tokoh :
rela berkorban, sabar, penyayang, bijaksana, keras kepala,
sensitif
·
Reaksi tokoh terhadap
Peristiwa :
Kyana adalah tokoh yang penyayang terbukti dengan reaksi
tokoh saat terjadi konflik dengan saudara-saudaranya. Kyana lebih
memilih untuk tidak membalas perlakuan saudara-saudaranya.
·
Keadaan sekitar tokoh : satu dari tiga saudara kembar yang
masih berusia SMA dan
tinggal di dalam kos-kosan
·
Karakter tokoh : centil, namun penyayang,
rela berkorban, hobi gonta-ganit
pacar, tidak begitu pintar, sensitif.
Bukti Karakter
Kyana
1.
Halaman 13
“…centik dan tukang dandan. Hobinya gonta-ganti pacar. Maklumlah
yang suka dia banyak…”
2.
Halaman 17
“Penampilannya Kyana tampak paling menonjol…”
3.
Halaman 91
“Dan karena Kyana pun sensitive, ia jadi sangat merasakan sakit hati
Fista.”
4.
Halaman 155
“Lo emang sering mencela gue seperti gue juga mencela lo, tapi lo
nggak pernah mukul gue. Lo bisa lebih sabar, nggak emosian kayak gue…” (kata Misty)
5.
Halaman 180
“Kyana berbohong demi kebahagiaan Byan…”
- Tokoh Utama Antagonis
Debyan Kashogi
(Byan)
·
Bentuk lahir tokoh : sederhana, berambut sebahu,
manis.
·
Jalan pikiran tokoh : selalu iri dan ingin lebih
diperhatikan daripada Kyana
·
Reaksi tokoh terhadap
Peristiwa :
Byan adalah tokoh yang sering iri hati terbukti dengan
reaksi tokoh yang pendendam dalam menghadapi lingkungan dan
orang-orang sekitar yang lebih sering menganggap Kyana lebih cantik. Reaksi
yang lainnya adalah, Byan terkejut saat buku hariannya ditemukan oleh Misty. Ia
pun menyesali kesalahannya.
·
Keadaan sekitar tokoh : satu dari tiga saudara kembar yang
masih berusia SMA dan
tinggal di dalam kos-kosan
·
Karakter tokoh : pendiam, pemalu, suka
minder, pendendam, pemfitnah,
kadang
menjadi pelerai antara Kyana dan Misty, bermuka
dua.
Bukti Karakter
Byan
1.
Halaman 11
“Memang selalu saja Byan yang bisa menghentikan adu mulut mereka
(Kyana dan Misty)”
2.
Halaman 13
“Byan, cewek pendiam, pemalu, suka minder, serta sangat tertutup…”
3.
Halaman 17
“Penampilan Byan biasa saja. Wajahnya segar alami…”
4.
Halaman 166
“Gue tahu Kyana menarik. Tapi gue juga mau ‘dianggap’ sebagai
kembarannya…”
5.
Halaman 188
“Gue menyesal, Ky.
Sungguh-sungguh menyesal..”
- Tokoh Utama Tritagonis
(pelerai)
Primisty Kashogi
(Misty)
·
Bentuk lahir tokoh : tomboy, berantakan, berambut
pendek sebahu
·
Jalan pikiran tokoh : bijaksana dalam menentukan
penyesalan masalah
·
Reaksi tokoh terhadap
Peristiwa :
reaksi tokoh Misty saat melihat pengemis, ia memberi
sedekah
reaksi tokoh Misty saat mengetahui perbuatan Byan adalah marah besar
dan kemudian menasehati dan menyadarkannya.
Reaksi tokoh Misty saat mengetahui perbuatan rela berkorban Kyana,
ia terenyuh dan kagum.
Reaksi tokoh Misty saat tahu berita kecelakaan Kyana, berperasaan
tidak enak.
·
Keadaan sekitar tokoh : satu dari tiga saudara kembar yang
masih berusia SMA dan
tinggal di dalam kos-kosan
·
Karakter tokoh : cuek, tomboy, dermawan,
penyayang, pelerai, pandai, suka
bermain basket, kreatif dan berjiwa sosial tinggi, peduli dengan
lingkungan sekitar.
Bukti Karakter
Misty
1.
Halaman 13
“Si bungsu bernama lengkap Primisty Kashogi, biasa dipanggil Misty.
Cuma satu kesan yang
didapat saat melihat cewek ini, yaitu tomboy. Misty nggak tahu apa-apa tentang
kosmetik. Tapi, yang nemanay olahaga,
apalagi basket, wah… dia oke banget deh.”
2.
Halaman 17
“sementara Misty paling amburadul…”
3.
Halaman 45
“Misty memang seperti itu. Di sekolah dia mungkin tidak begitu
pintar, tapi gadis itu sangat kreatif dan berjiwa sosial tinggi.”
4.
Halaman 174
“…Misty bisa berbicara seperti itu. Misty memang cuek, tapi ternyata
dialah yang paling peduli dengan lingkungan sekitar”
B. Tokoh
Tambahan
1.
Ibu Dive (Ibu Kos) : galak, perhatian
2.
Kamga (anak sulung Bu Dive) : lembut dan berwibawa
3.
Nerra (anak bungsu Bu Dive): kutu buku, dermawan, baik hati
4.
Reaza (pacar Kyana) :
mudah tersinggung tapi pemaaf
5.
Digar (pacar Byan) :
tulus
6.
Fista (teman sekolah KBM) :
sensitive
7.
Nipo (teman sekolah KBM) :
kreatif
8.
Guru matematika
9.
Bu Niah
10.
Kepala Sekolah
11.
Virny (pacar Kamga)
- LATAR
Latar Waktu
a.
Pagi hari (halaman: 77, 112-113, 142, 157-160)
b.
Siang hari / sepulang sekolah (halaman: 24-27, 41-45, 58-59, 65, 81,
151-152, 161-162, 122)
c.
Sore hari (halaman 92-102, 106-107, 162, 180)
d.
Malam hari (halaman: 27-30,
71-75, 89-90)
e.
Saat ulangan (halaman 22-24,
104-106)
f.
Pukul 22.00 malam (halaman 130)
g.
Saat penggeledahan kelas
(halaman 60-63)
h.
Hari Sabtu (halaman 68-75, 137)
Latar Tempat
a. Di rumah Kos Komet
- Di kamar
Misty dan Nerra (halaman 99-102)
- Di kamar
Kyana dan Byan (halaman 35-40, 50-52, 67-68, 90, 102-104,
106- 107, 163-180)
- Di kamar
Kamga (halaman 120-122)
- Di ruang
makan (halaman 30-31)
- Di ruang
tengah (halaman 73)
- Di ruangan
Bu Dive (halaman 92-94)
b.
Di SMA Kakaktua, Jakarta (halaman 41-44,
52-58, 60-64)
- Di toilet sekolah (halaman 160-161)
- Di kantin (halaman 32-34, 116-118, 149)
- Di lapangan sekolah (halaman 40-41, 146)
c.
Di Toko Buku (halaman 81-85)
d.
Di foodcourt (halaman 86-88)
e.
Di mall (halaman 68-70, 86-88)
f.
Di rumah makan ‘Sedap Pelangi’
(halaman 122-127)
g.
Di rumah sakit (halaman
184-187)
- ALUR
Berdasarkan urutan waktu, alur yang terdapat di dalam novel ini
adalah alur maju. Sedangkan berdasarkan kepadatan alurnya, di dalam novel ini
terdapat alur renggang.
Urut-urutan peristiwa dalam novel ini:
Gambar 1.1 Bagan alur
1. Eksposisi :
saat penulis memperkenalkan tiap-tiap tokoh beserta masing-masing wataknya,
lingkungan sekitar dan lain-lain.
2. Komplikasi :
saat penulis memunulkan konflik di antara Kyana, Byan, dan Misty, seperti: saat
Kyana dan Misty bertengkar, atau saat Byan memfitnah Kyana.
3. Klimaks :
saat Misty menemukan buku harian Byan dan saat Kyana kecelakaan.
4. Peleraian :
saat Byan menyadari kesalahannya dan meminta maaf pada Kyana
5. Penyelesaian: saat Byan minta maaf dan saat Kyana
meninggal dunia
- SUDUT PANDANG
Sudut pandang yang digunakan did ala novel ini adalah sudut pandang
orang ketiga serba tahu. Dibuktikan dengan penggunaan kata ganti orang ketiga.
Dan penulis seakan-akan mengetahui secara mendetail tentang tiap-tiap karakter
tokoh (serba tahu)
- AMANAT
Amanat atau pelajaran yang dapat diambil dari novel ini
adalah:
- Setiap orang dilahirkan memilikim kekurangan dan kelebihan masing-masing
- Janganlah iri hati
- Hendaknya saling menyayangi antarsaudara
- Pentinganya menghargai perasaan orang lain
- MAJAS
Majas yang terdapat dalam cerita:
- Simile.
“…seperti pinang
dibelah tiga..”
“layaknya dewei penghuni pesona…”
2.
Personifikasi
“hatinya
mulai menyelami kepribadian jiwa..”
3.
Hiperbola
“hati
teriris-iris…”
ini apaa.. mauuuuu
HP akhirnya meluncurkan netbook Mini 210 “Butterfly Lovers”. Netbook yang desainnya diracang oleh Vivienne Tam ini menggunakan icon kupu-kupu nan indah dengan warna background keemasan.
Spesifikasi Mini 210 adalah menggunakan prosesor Intel N450 CPU berplatform Pine Trail, layar LCD 10.1 inci, memori RAM 2GB, daoperasi Windows 7 Premium. Baterainya masih mengandalkan 3-cell yang mampu enyuplai power hingga 5,5 jam pemakaian, namun tersedia baterai opsional 6-cell dengan kemampuan pasokan daya hingga 11.1 jam.
Harga komputer mini ini US$600 (sekitar Rp 6 juta) dan dibuat dengan jumlah unit terbatas.
Sumber: HP
Seribu makna kupu - kupu
Aku melihatnya, Indah, berbinar penuh warna
Senada dengan sayapnya Ia berharga
Punya sejuta makna
Dari masa yang tak terhitung lamanya
Ia menjelma bukan hanya jadi sempurna
Namun mencipta kekuatan
Saat aku mampu membuka mata, mengenali warna , memahami kosakata, mengerti keindahan, mulai mengagumi sesuatu, aku selalu terkagum dengan kupu -kupu, aku tak pernah memandangnya sebagai suatu penjelmaan dari sebuah proses yang sekian lamanya.Terkekang, terkurung,terdiam, dan bergantung untuk sebuah kesempurnaan, untuk sebuah keindahan.Aku hanya mampu memandangnya sebagai kumpulan warna indah yang di berikan Tuhan, dengan sejuta binarnya ia beterbangan di antara bunga - bunga secantik dirinya dan aku tak pernah mengira jika dulunya ia adalah makhluk tanpa sayap.
Aku ingin menyentuhnya
Ada rasa ingin menggenggamnya
Untuk menjaganya,merasakan lembut sayapnya
Menyentuh Indahnya
Ia tek pernah diam,mengepakkan sayapnya selalu, terbang dan terbang ada saat berhenti namun tak juga diam.begitu kuatkah sayap indahnya, jika boleh aku ingin menggenggamnya, mencoba menangkapnya, memandangnya dalam genggaman.Aku mencoba mendekatinya , Ia terbang lagi, aku mengikuti arahnya, saat aku mencoba meraih yang kudapati hanya sayapnya patah di genggamanku.Tidakkah saat itu aku tahu jika ia begitu rapuh.
Aku tak pernah mengerti
Bagaimana kerapuhan dan kekuatan menyatu
Melebur dan mencipta menjadi satu
Sayap patah itu tak lagi indah, terasa melebur di hadapanku,terasa lemah tanpa jiwa, terlepas dari raga dan hanya menjadi sebuah serpihan.Andaikan bisa aku mengulang, aku takkan menyentuhnya jika akan menghancurkannya.Ada kekuatan yang tak pernah sempurna,ada kerapuhan yang harus terjaga dan ada hidup yang harus tetap ada.
diambil dari:http://dhefed.blogspot.com/
Senada dengan sayapnya Ia berharga
Punya sejuta makna
Dari masa yang tak terhitung lamanya
Ia menjelma bukan hanya jadi sempurna
Namun mencipta kekuatan
Saat aku mampu membuka mata, mengenali warna , memahami kosakata, mengerti keindahan, mulai mengagumi sesuatu, aku selalu terkagum dengan kupu -kupu, aku tak pernah memandangnya sebagai suatu penjelmaan dari sebuah proses yang sekian lamanya.Terkekang, terkurung,terdiam, dan bergantung untuk sebuah kesempurnaan, untuk sebuah keindahan.Aku hanya mampu memandangnya sebagai kumpulan warna indah yang di berikan Tuhan, dengan sejuta binarnya ia beterbangan di antara bunga - bunga secantik dirinya dan aku tak pernah mengira jika dulunya ia adalah makhluk tanpa sayap.
Aku ingin menyentuhnya
Ada rasa ingin menggenggamnya
Untuk menjaganya,merasakan lembut sayapnya
Menyentuh Indahnya
Ia tek pernah diam,mengepakkan sayapnya selalu, terbang dan terbang ada saat berhenti namun tak juga diam.begitu kuatkah sayap indahnya, jika boleh aku ingin menggenggamnya, mencoba menangkapnya, memandangnya dalam genggaman.Aku mencoba mendekatinya , Ia terbang lagi, aku mengikuti arahnya, saat aku mencoba meraih yang kudapati hanya sayapnya patah di genggamanku.Tidakkah saat itu aku tahu jika ia begitu rapuh.
Aku tak pernah mengerti
Bagaimana kerapuhan dan kekuatan menyatu
Melebur dan mencipta menjadi satu
Sayap patah itu tak lagi indah, terasa melebur di hadapanku,terasa lemah tanpa jiwa, terlepas dari raga dan hanya menjadi sebuah serpihan.Andaikan bisa aku mengulang, aku takkan menyentuhnya jika akan menghancurkannya.Ada kekuatan yang tak pernah sempurna,ada kerapuhan yang harus terjaga dan ada hidup yang harus tetap ada.
diambil dari:http://dhefed.blogspot.com/
Jumat, 16 November 2012
Menyusur Malam
Menghabisi pagi, menikam matahari
Tenggelam dalam garis sepi
Perpaduan oranye menghitam
Gelap
Pekat
Angin bertabrakan berebut arah
Hilang sudah terang
Manusia menggerayang
Meniti dewi malam
Merangkak masuk
Berpeta dentum jarum jam
Saat waktu pun ikut bisu
Mungin malu
Terharu
Tersipu
Atau takut
Bertekuk lutut
Bintang terpaku menatap satu-satu
Memendar sinar memecah kegelapan
Samar-samar
Mereka bilang tenang
Subuh mulai menjelang
Bunga Setahun Sehujan
Gerimis bukan
lagi gerimis. Angin yang bertiup pun tak cukup hanya dibilang dingin. Alam
beralih peran. Terik panas yang biasa menghujam kota Bengawan ini pun, lebih memilih untuk
menjadi mendung. Hujan. Saat hitam menggelayuti awan. Dan rerintikan air
bergantian menghujam tanah. Berisik. Suaranya menimpa atap rumah. Penghujung
tahun. Ya… inilah Desember.
♥♥♥
“Ck, hujan
lagi.” Keluh seorang gadis berambut panjang setengah punggung, yang baru saja
keluar dari kelasnya.
“Kenapa? Nggak
bawa mantol?” tanya temannya.
“Bukan. Nggak
suka aja.”
“Hm?” teman
gadis itu melangkah ke arah balkon kelas yang memang berada di lantai dua.
Kemudian, menengadahkan wajah menatap langit. Sesekali tangannya merasakan air
hujan sambil diulurkan. “Ada
ya, orang yang benci hujan?”
“Ada .” Gadis berambut
panjang itu melangkah meninggalkan temannya, “aku.”
“Emangnya
kenapa? Jadi galau yaaa?”
“Aku nggak
suka hujan bukan karena apa-apa.”
Temannya
mengernyitkan kening, sambil mengikuti langkah gadis itu yang semakin cepat
menuruni anak tangga, “terus? Kenapa, dong? Kamu aneh. Kayak Kugy di novel
Perahu Kertas!”
“Hujan itu
berisik.”
Desember
2011
“Hobi kok
hujan-hujanan! Masuk! Nanti sakit, terus nggak masuk sekolah! yang repot bukan cuma
kamu! Mamah juga repot!”
Omelan wajar
itu keluar dari mulut seorang ibu setengah baya kepada putrinya yang masih saja
di luar rumah meski hujan mulai deras. Tak tahan dengannya, gadis yang diomeli
itu pun masuk ke dalam rumah sambil tergopoh-gopoh dan segera mengambil handuk.
“Sekali-kali,
biarin deh, Mah. Anak mamah yang satu ini agaknya belum pernah dibiarin
hujan-hujan loh!” ujarnya, masih sibuk dengan rambut panjangnya yang kuyub.
“Udah
kewajiban seorang ibu mengingatkan anaknya yang bandel kayak kamu, to?”
“Tapi, maaah…”
“Nggak ada
tapi-tapian. Dasar, bawel. Cepet mandi! Mamah masakin balado telur kesukaan
kamu, nih..”
“Asiiiik…
makasih mamaaah…”
Lila. Gadis
periang pecinta hujan. Bersamanya, ia yakin, bahwa seluruh gundah yang
menderanya akan ikut luluh. Semua bermula saat dirinya SD. Saat itu sudah
saatnya pulang, Lila pun sudah dijemput sang ayah. Namun, berjam-jam ia dan
ayahnya menunggu hujan reda di sekolahnya. Karena Lila yang cerewet itu mulai
merajuk, ayahnya bertekat untuk menembus hujan dan mengayuh sepeda balapnya
kencang-kencang agar putrinya tidak terlalu kebasahan. Walaupun sebenarnya sama
saja. Lila tetap basah kuyub. Tapi, ia sangat menikmatinya. Membonceng ayah
dengan sepeda balap dan diguyur hujan itu… menenangkan. Lila suka ketenangan.
Lila
menghentikan aktivitasnya menyalin catatan Kumi, temannya. Akhir-akhir ini ia
memang sering kelewatan banyak materi sekolah karena harus ikut beberapa lomba
kesenian di sekolahnya. Jadi, memang sepintar-pintarnya Lila harus membagi
waktu dan mengejar materinya yang tertinggal. Masih di Desember yang sama, dan
di bawah guyuran langit mendung yang sama, hujan mulai menderas. Lila tersenyum
menatap buliran air hujan yang berebutan menitik di kaca jendelanya. Kalau
tidak ingat hari mulai gelap, ia pasti sudah berlari keluar dan bermain dengan
hujan.
“BRAK!!”
Ketenangan
Lila buyar, saat suara meja makan yang digebrak terdengar. Tak lama setelahnya
suara ayahnya ikut menggema seantero rumah mungil Lila. Gadis itu mulai takut.
Apalagi saat ibunya ikut mengadu mulut. Ini kali pertama Lila mendengar
pertengkaran orang tuanya. Pedih. Dan bersamaan dengan air hujan, buliran
bening air mata Lila menitik juga.
Kejadian
seperti itu berulang kali dialami Lila. Hingga gadis itu mulai frustasi. Ia
yang menyukai ketenangan selama belajarnya pun berubah menjadi Lila yang harus
menyumpal lubang telinganya dengan headset dan memutar lagu dengan volume super
keras agar suara-suara orang tuanya itu teredam. Namun, Lila jadi jengah
sendiri, ia rindu ketenangannya dulu… ini terlalu berisik. Lubuk hati
terdalamnya tidak menyukai ini.
“Ah!” teriak
Lila di kelas, sontak penghuni kelas yang lain pun terkejut. Untung, Pak Dani
baru saja keluar kelas.
“Lil? Kamu
ngapain??” tanya Kumi.
“Kenapa hujan
lagi sih! Berisik banget!”
“Hah? Kamu
kenapa?”
“Nggak tau.
Aku benci hujan. Suara airnya berisik!”
“Hei, iya oke,
kalo kamu nggak suka hujan, tapi nggak perlu teriak-teriak kayak begini kan ?? Kalau Pak Dani
dengar gimana?? Malu juga diliatin…”
“Ck, ah! Kamu
juga sama berisiknya!” Lila tak kuasa menahan emosi. Dibentaknya Kumi. Gadis
yang dibentak langsung menciut, pasalnya sahabatnya itu belum pernah semarah
ini. Apalagi untuk urusan sepele, seperti saat ini. Tapi, bagi Lila ini bukan
hal sepele. Kepalanya sedang benar-benar mau pecah, rasanya. Orang tuanya
bertengkar lagi semalam, dan yang kali ini lebih parah.
“Terserah
kamu, Lil. Kalau emang lagi badmood, jangan nyalah-nyalahin hujan seenaknya
sendiri gitu… semuanya nggak selamanya salah kan ? Kamu pun belum tentu benar!”
Diam. Lila
menelan bulat-bulat ucapan Kumi. Menyadari kebodohannya.
♥♥♥
Desember 2012
“Nah, udah reda
kan ?”
Lila bangun
dari lamunannya, kemudian melepas headset di telinganya. Benar kata Kumi. Hujan
sudah reda. Matahari mulai menyembul, menilik ranah buminya dengan sinar
setengah cerah. Aromanya juga berubah. Agaknya tanah mulai melepas dahaga.
Kedua mata
Lila tertuju pada Kumi yang entah sejak kapan sudah berjongkok di depan green house sekolah. Memandangi jejeran
bunga yang bentuknya menyerupai dandelion. Hanya saja ukurannya lebih besar dan
warnanya kemerahan. Lila tak tahu apa itu, yang ia yakin, bunga aneh itu tidak
mungkin terbang seperti dandelion saat ditiup. Haha.
“Apaan nih?
Siapa yang menanam beginian? Kamu?” tanya Lila setelah mendekati Kumi.
“Aduuuh,
Lilaaa.. kamu nggak up to date banget
sih? Kamu lupa ini bulan apa?”
“Apa?
Desember? Terus? Kok kamu nggak nyambung sama omongan aku sih, Kum?”
“Yee.. Kamu
itu yang nggak nyambung! Sini jongkok! Biar aku jelasin!”
Lila mengikuti
perintah Kumi.
“Ini namanya Bunga
Desember. Bunga yang paling paham dengan musim. Dia bahkan tahu betul bulan apa
sekarang.”
“Emangnya dia
tumbuh sendiri gitu?” tanya Lila, polos.
“Iya!” jawab Kumi,
“bunga ini cuma tumbuh sekali dalam setahun. Tanpa ada yang menanamnya, Lil.
Mereka tumbuh berjejer rapi. Ya.. di bulan Desember. Sama seperti namanya.
Manis, kan ?
Menurutku sih, bunga ini istimewa. Penyabar. Dia pasti menunggu-nunggu
datangnya bulan Desember kan ?
Bunga ini juga membawa kebahagiaan. Setidaknya, siapapun yang melihat bakal
mencelos hatinya. Dan mereka akan berseru senang, ‘akhirnya, bunganya tumbuh!’ kalau aku jadi bunga Desember, pasti
bakalan bahagia banget. Kehadirannya ditunggu-tunggu setiap tahunnya.”
Lila, gadis
berambut panjang setengah punggung itu tidak bergeming mendengarkan ucapan
Kumi. Kemudian hati dan otaknya yang cerdas mulai menyimpulkan.
“Semua akan indah pada saatnya. Kesabaran selalu
berbanding lurus dengan pencapaian. Kesabaran yang tulus akan membuahkan
keberhasilan. Begitu pula sebaliknya. Dan ia yakin, masalah tak selamanya
menjadi masalah. Ada
saatnya semua akan berlalu. Seperti hujan di Bulan Desember yang mengantarkan
ke sebuah bunga yang indah.
9tamat9
Langganan:
Postingan (Atom)

