Sabtu, 01 September 2012
1782012-00:01
Dentuman jarum jam memang perlahan
namun, dengan pasti merangkak menyusuri tiap menit, jam, hari, bulan dan sampai pada hitungan tahun.
tujuh belas tahun silam, seorang ibu telah menghembuskan doa untuk putranya yang baru lahir ke dunia.
dengan harapan yang sama, aku mengucap doa…
“Semoga laki-laki itu senantiasa dalam terang jalan pilihan Allah, selalu dalam sehat dan bahagia. semoga terwujud segala amin-nya dalam doa di akhir ibadahnya. semoga menjadi priya yang dihormati istri dan anak-anaknya, kelak. menjadi kebanggaan bagi siapapun yang mengenalnya.”
Happy Birthday untukmu yang hari ini menginjak 17 tahun…
1782012-00:01
namun, dengan pasti merangkak menyusuri tiap menit, jam, hari, bulan dan sampai pada hitungan tahun.
tujuh belas tahun silam, seorang ibu telah menghembuskan doa untuk putranya yang baru lahir ke dunia.
dengan harapan yang sama, aku mengucap doa…
“Semoga laki-laki itu senantiasa dalam terang jalan pilihan Allah, selalu dalam sehat dan bahagia. semoga terwujud segala amin-nya dalam doa di akhir ibadahnya. semoga menjadi priya yang dihormati istri dan anak-anaknya, kelak. menjadi kebanggaan bagi siapapun yang mengenalnya.”
Happy Birthday untukmu yang hari ini menginjak 17 tahun…
1782012-00:01
Sabtu, 11 Agustus 2012
#PuisiMalam
iseng, mata yang sangat terbiasa dnegan ke-ngalong-an-nya pun lebih memilih untuk menatap layar hape demi merangkai kata dalam bentuk puisi. ini. ulah manusia kurang kerjaan #PuisiMalam:
saat segala coba terlampau sia-sia. aku menyerah. menuangkan terserah pd secangkir maumu. #puisimalam
pulanglah. ke hutanmu. tempat dimana tak mungkin ada aku. tp datanglah. ke pentasku. tempat dimana selalu ada kamu #PuisiMalam
kita berada di jurang yg sama. tapi menghadap tebing yang berbeda. tak apa. setidaknya kita pernah jatuh bersama. #PuisiMalam
rindu dan sendu. jadi satu. tipis berbatas. sendu mengalir di tiap senda gurau. apa yg terjadi dg rindu? #PuisiMalam
bersyukurlah kupu-kupu bagian dari insecta. bukan aves, apalagi ayam. kupu-kupu ingin melihat senja. tanpa rabun. #PuisiMalam
aku benci berisik. itu sebabnya aku benci hujan. aku suka langit. itu sebabnya aku benci hujan #PuisiMalam
entah mengapa objek yg lain mendadak lebih menarik daripada bertemu tatap dengan kedua matamu #PuisiMalam
aku rindu. saat sebelah tanganmu menarik dan meraihku untuk sekedar memberi salam pulang #PuisiMalam
“sampai jumpa” buatmu. karena bagiku tak ada frase “selamat tinggal” diantara kita #PuisiMalam
tak sadar? setiap menyergap aroma permen itu. retinaku mencari dan menangkap. ada kamu di dalam zona sepiku. #PuisiMalam
ini bukan seberapa hebat jemari menulisnya. tp seberapa kuat mata hati merangkainya. puisi ini untuk kita.. #PuisiMalam
menyesap pelan. pahit manis luka. tertuang ke dalam kopi cinta. diantar untukmu. dari dapur hatiku.. #PuisiMalam
buruanmu memilih utk mati. daripd tersiksa dlm ranjau buatanmu. toh, pd akhirnya kau memutuskan utk melepasnya dan pergi #PuisiMalam
aku terseok sebegini bodohnya. boleh aku pulang? aku ingin tidur di balik selimut ketenangan. terimakasih sayang #PuisiMalam
aku punya satu hati. mau berbagi? sebelah untukmu dan sisanya untukku. mau berjanji? kalau bertemu nanti, kita satukan lagi.. #PuisiMalam
puisi ini dariku, sesuatu yg pernah ajaib bagimu. dan untukmu, sesuatu yg selalu berarti bagiku #PuisiMalam
saya pamit ya…
Jumat, 18 Mei 2012
Di Mata Soca (CERPEN)
“Gaunnya mau warna apa?”
“Warna? Ehm.. disamain aja sama warna sapu tangan ini…”
“Merah? Wah.. pasti kelihatan elegan. Pilihan warnamu
bagus. Di upacara kelulusan nanti, kamu pasti kelihatan paling cantik.”
“Makasih, tolong cepet dipesenin ya… ehm, ini buat surprise, jadi jangan sampai bunda tau!”
“Siap!”
♥♥♥
Seorang ibu guru SD mendekati salah seorang siswinya
yang hanya diam sambil memperhatikan hasil gambaran teman-temannya.
“Soca...” panggil guru itu. “Kamu ngapain? Mana hasil
gambaranmu?”
Siswi kelas 2 SD itu tak bergeming, dia terus
memperhatikan temannya yang sedang mewarnai. Pandangannya sangat serius.
“Soca? Ibu tadi bilang apa? Selesaikan dulu gambaranmu,
baru kamu boleh lihat-lihat punya teman yang lain…”
Guru itu menyerah saat perintahnya tidak digubris oleh
Soca. Kemudian, ia berjalan ke arah tempat duduk Soca. Di atas meja, dilihatnya
sebuah buku gambar dengan gambar kupu-kupu yang belum selesai diwarnai.
“Soca, ini gambar apa?” Tanya sang guru.
Soca, gadis kecil itu, memandang gurunya, sengit, lalu
menjawab dengan ketus, “masa’ bu guru nggak tau? Itu kupu-kupu.”
Ibu guru itu tersenyum, “iya. Ibu tau ini kupu-kupu.
Tapi kenapa nggak Soca warnai sayap kupu-kupunya?”
“Emangnya nggak boleh! Soca lebih suka begitu!”
“Soca, jangan membantah ibu. Cepat selesaikan
gambaranmu!”
“Pokoknya Soca nggak mau ngelanjutin gambarnya!! Nggak
mau Bu Guruuu!!”
“Soca!” guru itu mulai kesal, tapi ia mencoba bersabar
dan mendekati Soca yang mulai menangis, “kenapa, Soca? Kenapa nggak dilanjutin?
Kupu-kupunya jelek kalau Cuma begini…”
Soca tetap diam. Sang guru tak kuasa menahan amarah Soca
yang kian menjadi-jadi. Gadis cilik itu menangis histeris tanpa sebab. Ia
bahkan melempar jauh-jauh buku gambarnya.
♥♥♥
“Saya juga tidak
tau apa sebabnya, Bu… tapi Soca mendadak aneh sejak hari itu. Dia nggak pernah
mau ikut pelajaran menggambar. Tadinya, saya pikir saya bisa mengatasi anak itu
sendiri, Bu. Tapi lama-kelamaan saya jadi khawatir. Makanya saya melapor kepada
Ibu.”
Seorang ibu-ibu setengah baya berjalan melewati koridor
sekolah. Di kepalanya terus terngiang-ngiang ucapan wali kelas dari anak semata
wayangnya.
“Bundaaaa!” teriak seorang gadis setelah keluar dari
kelasnya. Ibu itu tersenyum melihat putrinya, Soca.
♥♥♥
“BRAKK!!”
“Soca!! Apa-apaan kamu!!” bentak ibunda Soca sesaat
setelah putrinya membanting keras-keras peralatan menggambarnya. “Socaa!!”
“Soca nggak mau nggambar lagi, Bun! Soca benci pelajaran
menggambar!!”
“Tapi kenapa?! Cerita sama Bunda! Kamu selalu kaya gini
setiap Bunda belikan peralatan mengggambar baru. Kenapa, Soca? Kamu kenapaa??”
Ibu–yang merupakan orang tua tunggal dari Soca–itu
memeluk erat tubuh putrinya sambil menangis.
“Kenapa, Soca? Ceritakan ke Bunda…”
“Soca nggak suka gambar, Bun. Soca pernah diejek sama
temen-temen karena warna pelangi.”
“Hah? Maksud kamu?”
Soca mengambil buku gambar dari laci meja belajarnya.
Lalu menunjukkannya kepada sang Bunda.
“Kata temen-temen Soca bodoh, Bun. Soca warnai
pelanginya salah…”
Soca mulai sesegukan menahan tangis. Ibunda Soca
memperhatikan gambaran putrinya. Keningnya berkerut heran saat mendapati gambar
pelangi yang diwarnai acak-acakan oleh putrinya. Yang lebih mengejutkan adalah
warna pelangi itu. Hitam.
♥♥♥
“Adalah
ketidakmampuan seseorang dalam membedakan warna-warna tertentu. Sprektrum
retina yang tidak memiliki sel kerucut yang sempurna biasanya hanya bisa
melihat warna hitam, abu-abu dan putih saja. Selain warna-warna itu, akan
sangat sulit dibedakan oleh Soca. Itulah yang dialami oleh putri ibu, buta
warna…”
“Yang ini apa, Bun?” Tanya Soca, membangunkan lamunan
ibundanya.
“Hm? Apa, Soca?”
“Ini warna apa?”
“Merah. Itu warna merah, Soca… Warna kesukaan bunda.”
“Bunda suka merah?” Tanya Soca, polos, “kalau begitu Soca
juga suka merah!”
Ibunda Soca tersenyum, lalu menyerahkan sesuatu ke
tangan Soca
“Simpan ini baik-baik, Sayang. Sapu tangan ini warnanya
merah. Kalau kamu kesulitan membedakan warna merah, bandingkan dengan warna
sapu tangan ini. Kalau sama, berarti warnanya merah.”
Soca mengangguk sambil memperhatikan sapu tangan milik
ibundanya. “Makasih, Bun. Soca sayang bunda!”
“Iya, Sayang. Bunda juga sayang Soca…”
Soca dan ibundanya larut dalam pelukan kasih seorang ibu
dengan putrinya.
♥♥♥
“Soca itu artinya ‘mata’. Ayah dan bunda pasti punya
maksud tertentu memberi nama itu buat ku. Mungkin, agar aku dapat melihat
warna-warna dunia melalui kedua mataku. Tapi ternyata, Tuhan punya maksud lain
di balik arti kata ‘Soca’. Aku terlahir dengan kelainan buta warna. Dan seperti
yang kalian tau, aku tidak bisa dengan sempurna melihat keragaman warna. Tapi
setidaknya aku masih bisa melihat. Melihat Bunda tersenyum bahagia karena ku.
Lihat, Bun, sekarang aku memakai gaun dengan warna kesukaan bunda. Merah. Bunda
suka merah, kan?
Bunda, kelulusanku ini adalah hadiah buat Bunda. Terima kasih, Bun. Terima
kasih telah menjadi ibu sekaligus ayah buat Soca. Di mata Soca, Bunda adalah
warna yang paling mudah Soca lihat…”
Tamat
Sabtu, 28 April 2012
dari dan untuk (sahabat)
Ergm, *mastiin kancing baju di kerah* oke. Let see.
Who I am? Let me to introduce my self. Oh, forget it.
Untuk seseorang yang entah mengapa membuat aku selalu berpikir.
Apa yang ada di kepalanya.
Senyuman Senja Itu
Who I am? Let me to introduce my self. Oh, forget it.
Untuk seseorang yang entah mengapa membuat aku selalu berpikir.
Apa yang ada di kepalanya.
Senyuman Senja Itu
Kerang Mutiara dan Laskar 10-nya (based on true story)
Kerang Mutiara dan Laskar 10-nya
Aiyas Mutiara
(@aiyasmutiara)
Saat raga ini menghadap ke bayangan cermin datar yang rata tanpa celah, saat itu pula aku menatap sosok pantulan gadis enam belas tahun yang kini mulai tumbuh menjadi remaja beranjak dewasa. Ekspresinya mengikuti gerakan otot-ototku. Saat aku tersenyum, maka bayangan itu pun akan tersenyum. Namun, apa yang terjadi padanya jika aku menggerakkan syaraf untuk menangis? Bayangan itu pun akan menangis.
Saat jemari ini menari indah di atas barisan rapih keyboard laptop, saat itu juga aku melihat sebuah layar yang menampilkan hasil karya sepuluh jariku. Yang pun sama… menunjukkan suasana 10 laskar jari-jemari yang bekerja sama menuangkan isi pikiranku. Kutulis b-a-h-a-g-i-a, dan susunan huruf itu yang akan kulihat pada layarnya. Namun, apa yang terjadi jika koordinasi otakku mengisyaratkan si ‘laskar 10’ untuk menulis t-e-r-l-u-k-a? layar kotak beraturan itu pun akan menampilkan barisan huruf yang sama. terluka…
Aiyas Mutiara
(@aiyasmutiara)
Saat raga ini menghadap ke bayangan cermin datar yang rata tanpa celah, saat itu pula aku menatap sosok pantulan gadis enam belas tahun yang kini mulai tumbuh menjadi remaja beranjak dewasa. Ekspresinya mengikuti gerakan otot-ototku. Saat aku tersenyum, maka bayangan itu pun akan tersenyum. Namun, apa yang terjadi padanya jika aku menggerakkan syaraf untuk menangis? Bayangan itu pun akan menangis.
Saat jemari ini menari indah di atas barisan rapih keyboard laptop, saat itu juga aku melihat sebuah layar yang menampilkan hasil karya sepuluh jariku. Yang pun sama… menunjukkan suasana 10 laskar jari-jemari yang bekerja sama menuangkan isi pikiranku. Kutulis b-a-h-a-g-i-a, dan susunan huruf itu yang akan kulihat pada layarnya. Namun, apa yang terjadi jika koordinasi otakku mengisyaratkan si ‘laskar 10’ untuk menulis t-e-r-l-u-k-a? layar kotak beraturan itu pun akan menampilkan barisan huruf yang sama. terluka…
Sepuluh Jari yang Peduli
Sepuluh Jari yang Peduli
Peduli. Kata sederhana yang sangat dalam maknanya. Bahkan lebih dibutuhkan oleh manusia. Siapa yang tidak butuh kepedulian? Siapa yang ingin dicampakkan? Semua wujud pengertianmu, kasih sayangmu, adalah bentuk kepedulianmu. Bukan hanya ditujukan untuk sesama manusia. Kepedulianmu dibutuhkan oleh segala item kehidupan. Dan bukan hanya kehidupanmu, kehidupan bersama lebih memerlukan kepedulian.
Jutaan baris kata yang aku buat selama ini, ataupun segala dedikasiku dalam menulis karya-karya, kutempatkan pada sebuah wadah yang aku sebut dengan wujud kepedulianku. Karena dari sana, aku peduli dengan lingkunganku. Lingkungan yang setiap saat bahkan kapanpun, selalu kutuangkan dalam deretan rapih tombol-tombol keyboard laptopku. Dari sana aku peduli, tentang pribadiku, keseharianku, yang aku catat secara rinci walau aku yakin tidak sempurna. Tentang, kehidupanku, sekolahku, keluargaku, teman, sahabat, musuh dan hal nampak lainnya. Bahkan sebuah frase tentang khayalan yang mereka sebut dengan ‘imaginasi’ tak jarang kutemukan di dalam laptopku.
Peduli. Kata sederhana yang sangat dalam maknanya. Bahkan lebih dibutuhkan oleh manusia. Siapa yang tidak butuh kepedulian? Siapa yang ingin dicampakkan? Semua wujud pengertianmu, kasih sayangmu, adalah bentuk kepedulianmu. Bukan hanya ditujukan untuk sesama manusia. Kepedulianmu dibutuhkan oleh segala item kehidupan. Dan bukan hanya kehidupanmu, kehidupan bersama lebih memerlukan kepedulian.
Jutaan baris kata yang aku buat selama ini, ataupun segala dedikasiku dalam menulis karya-karya, kutempatkan pada sebuah wadah yang aku sebut dengan wujud kepedulianku. Karena dari sana, aku peduli dengan lingkunganku. Lingkungan yang setiap saat bahkan kapanpun, selalu kutuangkan dalam deretan rapih tombol-tombol keyboard laptopku. Dari sana aku peduli, tentang pribadiku, keseharianku, yang aku catat secara rinci walau aku yakin tidak sempurna. Tentang, kehidupanku, sekolahku, keluargaku, teman, sahabat, musuh dan hal nampak lainnya. Bahkan sebuah frase tentang khayalan yang mereka sebut dengan ‘imaginasi’ tak jarang kutemukan di dalam laptopku.
Langganan:
Postingan (Atom)